Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Desember 2010

Aku malang....Ibuku Jalang ,Bapaku Jahanam bukan kepalang

Aku dibentuk dari dua nyawa yang terpisah. Nyawa seorang pria yang menabuhi seorang wanita bernyawa dengan sperma. Aku ingat saat dulu berkejar-kejaran dengan teman-teman. Kami mencari tempat terhangat, sebelum salah satu dari kami berhenti sesaat. Siapa bilang kami bernyawa setelah salah satu dari kami mempunyai rupa? Kami telah bernyawa dari sejak kami menjadi sperma. Kalau kami tak bernyawa, mana mungkin kami punya tenaga untuk mencapai indung telur wanita. Aku juga masih ingat, sesama teman sperma yang dimuntahkan dari penis manusia, mati di jalan karena mereka berlari terlalu pelan atau kalah dalam himpit-himpitan jutaan teman yang berkejar-kejaran mencari tempat buat makan. Nyawa pertamaku dari seorang pria. Tapi sambungan hidupku berada pada wanita. Aku makan dari wanita yang kemudian kukenal dengan sebutan ibu. Ibu yang mengharapkan kehadiranku atau Ibu yang menganggapku hanya sebagai benalu. Entah yang mana ibuku, aku belum tahu.
Saat ini, aku baru saja bersenyawa dengan tubuh Ibu. Membentuk sel baru yang menyatu. Meninggalkan rupa lama yang dulu hanya berbentuk ekor dan kepala. Aku mulai tumbuh dan tak lama lagi akan membuat pergolakan rasa yang perlahan akan membuat Ibu tahu bahwa aku ada. Aku sudah tidak sabar untuk mengabarinya bahwa ia telah berhasil menciptakan bibit manusia. Aku makan dengan rakus. Aku minum karena selalu haus. Aku ingin cepat mempunyai muka, kaki, tangan, untuk mengelus, menendang bahkan menerajang. Bukan aku tak sayang. Tapi ini satu-satunya caraku untuk memberi tahu Ibu bahwa aku bukan bayang.
Tidak tahukah Ibu, bahwa aku begitu bangga. Aku juara. Aku mengalahkan berjuta ekor dan kepala lainnya yang datang mencari Ibu. Tidak tahukah Ibu, walau belum mempunyai mulut dan bibir untuk tersenyum, aku sudah tertawa, penuh rasa lega akhirnya aku tiba. Lelahku akhirnya terbalas juga. Ibu memberiku makan dari darah yang mengandung sari yang dipompa dari jantung melalui aorta.
xxxxx
Malam pertama bersama Ibu. Aku melihat Ibu duduk di atas sebuah kursi memanjang dengan bantal yang kenyal. Ia seperti menunggu. Apakah Ibu menunggu Bapakku? Aku belum tahu. Malam ini Ibu terlihat begitu cantik. Pantaslah Bapakku tidak bisa munafik untuk tidak tertarik. Ibu benar-benar bersifat magnetik. Pintu diketuk. Ibu bangkit dan berjalan secara perlahan. Seorang lelaki bertubuh tambun dengan perut menyembul, muncul. Dia bukan Bapak. Aku tahu persis siapa Bapak. Aku diam berhari-hari di tubuh Bapak sebelum akhirnya bertemu Ibu. Bapakku tampan. Wajahnya rupawan. Ia mempesona setiap perempuan. Bukan seperti lelaki yang datang ini, perawakannya tak beraturan. Mungkin saja dia bapaknya Ibu. Wajah dan penampilannya menunjukkan seperti itu. Tapi, tidak! Ia menyentuh Ibu dengan gerakan yang sama sekali tak malu-malu. Ada apa dengan Ibu? Ibu, dia bukan Bapakku. Teganya Ibu mengkhianati Bapakku.
Aku lemas. Tapi, laki-laki itu semakin panas. Gerakan-gerakan yang ia ciptakan membuat salah satu bagian tubuhnya menegang. Bagian tubuh itu, persis seperti tempatku dulu di tubuh Bapak. Aku ingat ketika Bapak berlaku seperti itu pada Ibu. Bapak bereaksi. Reaksi itu menimbulkan ereksi. Ia seakan memberi pertanda pada kami untuk siap-siap beraksi. Reaksi ereksi itu seperti permulaan arena balapan. Penuh ketegangan. Kami menunggu dalam deru erangan, yang sebentar kemudian akan memunculkan pertanda, seperti bendera yang turun di arena balapan, kami berkebut-kebutan.
Aku menunduk malu. Ibu dan lelaki itu saling beradu. Lelaki itu membolak-balik iIu seperti barbeque di arang kayu. Lalu, tumpahan-tumpahan makhluk seperti aku membasahi muka Ibu. Mereka tidak berlarian, seperti aku, di dalam liang hangat, tempat laki-laki itu singgah sesaat sebelum air maninya muncrat, mencuat, menggurat menjadi lekat di kulit Ibu yang sekat oleh keringat.
xxxxx
Aku ingin bertemu Bapak. Malam ini, malam keduaku bersama Ibu. Ibu kembali menunggu. Apakah kali ini lagi-lagi lelaki buncit yang memberi malu, atau sesungguhnya Bapak yang ditunggu? Aku belum juga tahu.
Ibu menunggu di dalam sebuah ruangan luas, megah dan nyaman. Ia sendirian. Tapi tidak sepenuhnya sendirian. Ia ditemani segelas minuman. Minuman itu begitu elegan dalam gelas kaca dengan kaki panjang menawan. Ibu menenggaknya. Beberapa menit kemudian aku merasakan sesuatu yang tak nyaman. Minuman itu memabukkan. Oh Ibu, kali ini dia membuatku mabuk. Tubuhku yang belum sepenuhnya terbentuk ini terasa berputar-putar. Dunia tempat Ibu berpijak, berguncang dan seakan tak berhenti bergetar. Aku gemetar. Tapi aku tak gentar. Aku ingin tetap terjaga. Aku ingin bersamanya ketika ia bersama siapa saja, sehingga aku bisa mengenal wajah seorang Bapak yang kutunggu kedatangannya.
Masih, yang datang lagi-lagi lelaki. Lelaki bertubuh tinggi dengan kulit putih sangat terawat. Wajahnya tampan dengan senyum yang sangat memikat. Pantas saja seorang Ibu terjerat. Apakah ia Bapak? Bukan. Sudah kukatakan, Bapakku memang tampan dan rupawan, ia mampu memikat perempuan. Tapi Bapakku berkulit kecokelatan. Lelaki itu datang menjenguk Ibu. Tidak seperti lelaki tambun tak tahu malu yang langsung menyentuh Ibu tanpa ragu. Ia duduk dan berbicara terlebih dulu. Bercanda. Lantas tertawa-tawa. Ia pun meminum minuman yang diminum Ibu. Lalu berbaring dan membuka baju. Bajunya. Dan baju Ibu.
Ia menaiki Ibu yang tengah terbaring. Lalu ia menyatukan tubuhnya dan tubuh Ibu seperti anjing. Suara desah Ibu terpecah melengking. Menciptakan bunyi yang membuat tubuh tanpa kepalaku pusing dan pening.
Makhluk-makhluk yang dulunya seperti aku, akhirnya keluar. Mereka seperti lahar yang mencahar karena panas bergejolak yang membakar. Tumpahan-tumpahan itu berlalu bersama waktu, dengan gerakan yang membuat lelaki itu bersimpuh layu. Ini tempatku. Matilah kalian sebelum sampai lebih dalam di rahim Ibu. Aku sudah tiba lebih dulu. Sudah tidak kusisakan lagi sedikitpun tempat untuk kalian menyatu.
xxxxx
Dan aku masih menunggu. Menunggu Bapakku. Tapi Ibu tak pernah lagi bertemu Bapak. Sekian hari sekian waktu Ibu selalu bersama laki-laki. Ibu bertemu laki-laki. Ibu tidur dengan laki-laki. Ibu mencampuri laki-laki. Ibu bercinta dengan laki-laki. Kemudian mereka datang dan pergi, silih berganti. Lompat-lompatan. Desah-desahan. Gerakan jumpalitan hingga ledakan tumpahan air kemaluan, bukan lagi keanehan. Tapi, lompat-lompatan, gerakan jumpalitan, hingga ledakan tumpahan air kemaluan yang bukan lagi keanehan, tidak Ibu lalui bersama Bapak.
Dan hari ini, hari ketujuh bersama Ibu. Ibu masih belum tahu keberadaanku. Ia masih sibuk dengan dirinya yang luar biasa. Luar biasa sempurna. Luar biasa menggoda. Luar biasa bercinta. Laki-laki manapun takluk dan bertekuk lutut padanya. Aku marah pada keluarbiasaan Ibu. Aku kecewa pada gaya hidupnya. Aku putus asa pada sikapnya. Dan aku menerjang. Walau tak punya kaki tangan aku menendang, membuat Ibu mabuk kepayang. Aku ingin Ibu sadar. Aku ingin Ibu dengar. Aku ingin Ibu gentar, bahwa aku ada. Aku nyata. Aku bibit manusia buah bercinta dengan pria yang belum kujumpa.
Ibu meraung. Ia memuntahkan isi perut yang ia kandung. Aku tak urung. Terus kugetar-getarkan tubuhku untuk membuatnya terhuyung. Ibu tersandar. Ia lelah karena harus memuntahkan makanannya keluar. Wajahnya panik. Lalu ia mengambil sesuatu dalam sebuah kotak yang berbungkus plastik. Benda itu berbentuk kertas tipis memanjang secarik. Ibuku mengamat-amati benda itu. Kemudian ia menduduki kloset dan mengencinginya. Ia diam. Menunggu dalam bimbang. Ia berdiri. Berjalan bolak-balik mondar-mandir sambil menggenggam benda itu dan berpikir. Ia meliriknya. Dengan bola mata yang terbuka lebar, nanar, ia memaki.
“Bangsat!
xxxxx
Aku semakin besar kini. Aku berteman dengan benda yang kemudian kukenal dengan sebutan, ari-ari kembaran. Aku sudah memiliki tangan dan kaki, walaupun belum sepenuhnya memiliki jari jemari. Aku tetap makan. Tapi tak lagi makan dengan lahap. Aku tetap minum. Tapi tak lagi minum dengan harap. Aku tumbuh karena aku memang tumbuh dan waktu perlahan membuatku begitu. Sebentar lagi aku akan membuat kulit Ibu meretas. Dan Ibu bukan lagi sadar, tapi juga akan membesar.
Aku seperti tak berhenti meratapi diri, sementara ari-ari tak berhenti mencaci maki. Ia menyebut-nyebut aku si tolol yang dungu. Aku memang tolol dan dungu. Itu semua karena Ibu.
“Hey Jabang Bayi, berhentilah kau berharap. Dunia yang sesungguhnya memang pengap. Kalau kau tak tau caranya bertahan kau bisa megap-megap.”
“Masa bodoh dengan dunia di luar sana, Ari-ari. Aku tak pantas diperlakukan seperti ini. Tahukah Ibu bahwa aku mani yang menang lomba lari terpanjang seantero bumi? Bukan salahku kalau aku kemudian menghuni tempat ini. Aku disuruh lari, aku lari. Teman-teman berkejar-kejaran, aku ikutan. Mereka balapan, aku memimpin di depan, hingga akhirnya aku tiba dalam rahim seorang perempuan. Perempuan yang tak berperasaan.”
“Dia jelas-jelas lupa saat ia masih menjadi sperma. Dunia sudah membuat ia lupa asal mula. Dunia kehidupan yang berbeda, kata mereka.”
“Aku benci Ibu.”
“Ibumu pelacur.”
“Dan aku anak pelacur yang vaginanya selalu menjadi tempat bercampur.”
Ibuku benar-benar tak punya belas kasihan. Ia tak hanya membuatku mabuk dengan minuman. Ia mengisi udara paru-paruku dengan asap yang membuatku jengap. Asap yang ia hirup dan ia jadikan oksigen sampingannya untuk bernafas menjadi racun yang membekas. Ibu benar-benar tak pernah menginginkanku. Ia Ibu yang hanya menganggapku benalu.
xxxxx
Malam ini ia kembali menunggu. Entah laki-laki mana lagi aku sudah tak mau tahu. Dia memang selalu seperti itu. Tidur dengan laki-laki yang datang dan berlalu.
Malam ini, Ibuku tak cantik. Tak seperti biasa, ia terlihat kusut masai dengan rambut berantakan tergerai-gerai. Tubuhnya hanya terbalut kaos singlet berwarna putih. Ia tak memakai bawahan, hanya mengenakan celana dalam berwarna hitam. Ia duduk di sisi jendela di atas sebuah sofa berlengan. Dan dari dalam sini, bisa kurasa bahwa di luar sana sedang hujan. Tangannya memegang sepuntung rokok yang abunya sudah bertumpuk menunggu jatuh. Kakinya bertekuk dan ia peluk.
Seorang laki-laki tiba-tiba datang. Laki-laki itu berperawakan tinggi. Ia tampan dan rupawan. Wajahnya memikat setiap perempuan dan kulitnya kecokelatan. Kulit muka yang sepertinya berewokan meninggalkan bekas cukuran yang terlihat jantan. Ia sungguh laki-laki yang menawan. Dan ia Bapakku.
“Ari-ari, lihat siapa yang datang. Itu Bapakku. Bapak kita.”
“Tenanglah, Jabang Bayi bodoh.”
“Aku takkan bisa tenang, Ari-ari. Aku akan menendang perut Ibu sebagai pertanda agar ia tahu. Aku ingin ia memberi tahu Bapak bahwa kita ada.”
“Diamlah, kau Jabang Bayi tolol. Kau tendang seperti apapun ia takkan memberitahunya. Ia tetap akan diam, dan diam saja.”
“Kenapa ia takkan memberi tahunya, Ari-ari. Lelaki itu Bapak kita. Dan ia berhak tahu bahwa aku ada juga karena dia.”
“Karena Ibumu jalang, makhluk malang. Perempuan itu pun tak tahu siapa yang telah mencampurinya. Jadi memberi tahu laki-laki itu hanya akan sia-sia dan merusak acara bercinta mereka.”
Lelaki yang kusebut-sebut Bapak tidak langsung menyentuh Ibu, seperti lelaki tambun yang penuh nafsu. Ia juga tidak seperti lelaki menarik yang memulai percintaan dengan candaan menggelitik. Ia diam seribu bahasa. Ibu pun diam. Mereka tak saling berteguran. Lelaki yang kusebut Bapak itu kemudian bergerak ke depan Ibu yang masih melihat hujan. Ibu masih tak membuat gerakan. Sesaat kemudian ia menoleh, Ibu dan menghujaninya dengan tamparan.
Aku tersekat. Ibuku tetap diam. Lelaki itu menarik tubuh Ibu dan mencengkramkan kedua tangannya ke leher jenjang Ibu. Ibu tak terpekik walau setengah mati ia tercekik. Bapakku semakin membabi buta. Ia merobek pakaian Ibu sampai tak satupun tersisa. Ibu masih tak melawan. Bahkan ketika lelaki yang kusebut Bapak itu menunggangi Ibu seperti binatang, Ibu terkesan pasrah dan melemah. Bapakku memaki. Setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah cacian meskipun ia begitu kenikmatan.
Aku menutup mukaku dengan kedua tangan yang baru terbentuk seakan menahan malu. Begitukah Bapakku saat membuat aku. Hinanya aku. Hal yang sudah lama kutunggu berjumpa dengan Bapak tidak seperti apa yang menjadi pengharapan rindu. Bapak tidak mencium Ibu dengan hangat, ia menamparnya. Bapak tidak memeluk Ibu dalam dekap, ia mencekiknya. Bapak tidak bercinta dengan Ibu penuh dengan rasa, ia memakinya. Ia seperti pawang yang menunggangi binatang yang telah terlebih dulu di cucuk lubang hidungnya. Ibuku benar-benar perempuan binal. Ia pelacur profesional. Ia melayani laki-laki manapun yang tak ia kenal. Sampailah ia bertemu Bapak yang tak kalah nakal. Jadilah aku hasil hubungan yang penuh malu. Lelaki itu tak akan pernah tahu bahwa aku dulu adalah benda berekor dan berkepala yang ada di tubuhnya, dan kini melebur dalam tubuh pelacur, tubuh Ibu, menjadi zygot, menjadi embrio, menjadi setengah manusia yang sudah memiliki kepala sesungguhnya kepala.
Argh! Aku penat. Ibuku perempuan laknat. Bapakku lelaki bangsat.
xxxxx
“Aku seakan tak punya harapan hidup, Ari-ari.”
“Bodohnya kau, Jabang Bayi. Tidak ingatkah perjuanganmu untuk sampai ke tempat ini?”
“Percuma saja, Ari-ari. Ibu Bapak tak menginginkanku.”
“Persetan dengan mereka. Kau tetap berhak melihat dunia.”
Aku terdiam sejenak. Ari-ari kembaranku benar. Aku tak mau mati di sini. Aku sudah hidup dan bernyawa. Perjuangan sampai ke tempat ini sangat berharga. Aku bukan hanya makhluk berekor dan berkepala yang tumpah di muka wanita, di lantai, di kasur, lalu dibuang sia-sia. Aku sudah menjadi setengah manusia, dan aku memiliki hak seperti para manusia, karena aku sudah menjadi bagian dari mereka.
“Ari-ari, apa aku akan melupakan saat-saat ini ketika aku seutuhnya menjadi manusia sejati?”
“Maaf Jabang Bayi, aku rasa kau tidak akan pernah muncul di dunia untuk menghirup udara?”
“Kenapa, Ari-ari? Kenapa?”
Belum sempat ari-ariku menjawab, aku sudah merasakan guncangan hebat bergetar dalam ruang sempit di sekelilingku. Aku bergerak, meronta, melawan, menerjang guncangan yang menarikku juga menarik ari-ari kembaran. Tenaga yang kami miliki sungguh tak sebanding dengan kekuatan angin maha dahsyat yang menyedot kami. Mataku terbuka lebar, nanar, persis seperti mata Ibu saat baru menyadari keberadaanku. Sungguh aku tak percaya bahwa Ibu benar-benar tega. Tanpa sadar aku terisak, dalam tangisan yang rasanya sesak. Ari-ari dan aku saling berpegangan, saling berpelukan. Dan ini adalah perpisahan.
Wahai Ibu, teganya kau padaku. Aku darah. Aku dagingmu. Aku bagian tubuhmu. Sekarang kau membuangku seakan aku sampah. Benda tak berharga yang keberadaannya hanya menyesakkan dunia.
Aku sudah tak mampu lagi meronta. Ari-ariku sudah tak lagi berbicara. Tidak ada juga udara yang mampu kuhirup untuk membakar tenaga. Hanya perasaan marah yang bergejolak dan tergelak-gelak seperti lava. Aku malang. Ibuku jalang. Bapakku jahanam bukan kepalang.
“Kalau saja kau ingat seluruh perjuanganmu mencapai tempat di rahimmu, Ibu, kau pasti tak akan melakukan ini semua. Hanya saja, dunia menggerus ingatanmu. Dan tak lagi membekaskan memori masa lalu asal muasalmu. Aku manusia, Ibu. Walau setengah manusia. Aku berhak hidup dan melihat dunia, walau ia fana.”
Dan aku lemas, tak lagi bernafas. Aku hanya berharap untuk diberi lagi kesempatan menjadi mani pada laki-laki, yang akan kembali membuatku berjuang dan berkejar-kejaran dalam himpitan. Mudah-mudahan aku sampai pada perempuan yang menanti kedatanganku. Bukan Ibu yang hanya menganggapku sebagai benalu.

Kamis, 25 November 2010

Menunggu pelangi

“Pelangi!! Ayo kesini! Hujannya lumayan deras nihh! Nanti sakit loh!” teriakku sekencang – kencangnya ke arah Pelangi yang dari tadi mengincar air hujan yang berjatuhan. “ Bentar donk! Lagi seru main sama air nih! Lagian kalo disitu nanti kita ga bisa lihat pelangi tau!” balas pelangi dari kejauhan. Aku segera mendatanginya. “ Mana Ngi pelanginya?” tanyaku penasaran dengan kata–katanya barusan. Di situ aku pertama kali melihat pelangi yang indaaahh sekali bersama dengan sahabat setiaku, Pelangi.                          Oh iya. Kenalkan namaku Tito. Aku sudah duduk di bangku kuliah. Semester 4. Aku sangat suka dengan dunia balap. Piala dan penghargaan prestasiku di dunia balap juga ga dikit lho. Cuplikan tadi hanya seberkas cerita kecilku bersama sahabatku Pelangi. Dan itu adalah kali pertama kita melihat pelangi bersama – sama dan akhirnya menjadi hobi kita setiap ada hujan.                          Hari ini, begitu indah untuk seluruh keluargaku. Ayah baru saja pulang dari Amerika. Kenangan indah masa kecilku bersama ayahku kembali lagi di benakku. Tami dan Hugo juga terlihat senang. Terutama si Tami, adikku yang paling kecil sekaligus paling manja dan cerewet ini seakan tak mau lepas dari pelukan ayahku. Mama juga memasakkan makanan kesukaan semua anggota keluarga hari ini.                          Tak lama, rintik – rintik hujan mulai berdatangan. Makin lama makin deras. Ikan – ikan dibelakang rumah membiarkan nuansa hening dan damai dari rintik – rintik hujan menambah volume air di habitat mereka. Tumbuhan – tumbuhan juga membiarkan tetesan air membasahi permukaan daun mereka.     Teringat kembali aku akan si Pelangi. Dia masih satu kampus denganku. Ku angkat telepon genggamku yang ada di atas sofa yang sedang kududuki sekarang ini. Aku mencari nomer telepon dari sahabat tercintaku itu. Setelah kutemukan, kutekan tombol berwarna hijau yang ada di antara beberapa tombol lain. Mulailah suara halus dan lembut menjawab panggilanku. Aku mulai berbincang dengan Pelangi dan mengajaknya pergi bersamaku untuk melihat pelangi di angkasa sebelum hujan reda.                            “ Hayo kak Tito janjian sama kak Pelangi yaaa......” tiba – tiba suara si Hugo menyadarkanku dari serunya pembicaraan dengan Pelangi. Segera kutarik kulit tangannya setelah aku menutup telponku dengan Pelangi. “ Apaan sih kamu itu! Masih SMP jangan ikut – ikutan! Kakak mau pergi sama kak Pelangi dulu. Ntar bilangin ke ayah sama mama oke?” aku bertutur kepada adik laki – lakiku yang rese’ ini. Seraya dia menjawab, “ Pake pajak dong kak!”. Aku tercengang. Si Hugo nyengar – nyengir ga karuan. Oke deh, aku kasih dia uang jajan.                            “ Hai! Udah lama ya? “ sapaku dengan menepuk pundak si Pelangi yang sudah menunggu beberapa menit. “ Eh? Oh, enggak kok. Baru 10 menit.” Jawabnya dengan lembut. “ Oh. Sorry ya udah buat nunggu.“ pintaku dengan penuh harap. “ Nggakpapa To. Santai aja deh.” Jawabnya dengan santai dan tulus. Pelangi langsung menunjuk ke langit yang sedang menurunkan air saat itu. Kami berdua langsung tersenyum bersamaan. Bangku taman yang kami duduki terasa hangat dan nyaman. Huft, seperti dulu lagi. Sangat indah saat ini.                           Sungguh romantis situasinya. Sempurna sekali dengan rencanaku yang sudah beberapa tahun kupendam. Aku merentangkan tanganku ke pundak Pelangi. Pelangi yang terkaget segera memandang wajahku. Dengan lirih aku menanyakan hal yang sangat sulit untuk ditanyakan dan dijawab. “Ngi. Ehm.., Pelangi. L, lo, lo mau ga…” aku berusaha bertanya dan mengeluarkan kata – kata. Pelangi menjawab tanyaku yang belum selesai kuucapkan “Mau apa To? Kalo bantuin lo, gue mau kok.”. “ Ituh, bukan. Bukan bantuin gue. Tapi lo mau ga… jadi.. jadi.. pa..” aku ga bisa mengeluarkan kata – kata dengan sempurna. “Huft.. ayo bicara Tito!” aku berbicara pada diriku sendiri dalam hati.                             Mobil Avanza berwarna silver menghampiri kita. “ Eh To. Ga terasa kita udah lama lho disini. Tuh kakak gue udah jemput. Ngomongnya besok dikampus ya. Oke friend??” seru Pelangi bergegas menghampiri mobil kakaknya. “ Eh, Ow. Oke deh. Bye..” aku menjawab seruan pelangi dengan kecewa karena aku ga bisa mengungkapkan rasa yang sudah lama ingin aku ungkapkan. Apa lagi, dia memanggilku ‘friend’, apa mudah buat aku nembak dia??                         Di kampus, aku memulai pelajaran bersama semua teman – temanku yang menambah ceria hari – hariku. Seperti awalnya, anak – anak GALGOBHIN atau pasnya genknya si Rico, anak terpintar,terbaik, dan tersopan di penjuru kampus sekaligus rivalku untuk mendapatkan Pelangi ini menjawab setiap pertanyaan yang diajukan Pak Fardi yang adalah sang Master dari Matematika.                          Istirahat, aku menemui Pelangi duduk bersama Chika dan Tiwi di kantin. Aku meminta izin pada Chika dan Tiwi untuk berbicara sedikit dengan Pelangi. Dan aku diizinkan. Aku menarik tangan Pelangi ke depan pintu kantin.                              Dag dig dug makin terasa. Makin keras, keras, dan terasa jantung ini akan pecah. Mengapa? Karena aku berhasil dengan lancar menembak Pelangi. Sekarang aku tinggal menunggu jawaban. Kutatap matanya, ia juga menatap mataku. Dan jawaban apa yang kudapat? “Ehm, gimana yah? Oke deh. Tapi kita harus serius dan ga main-main oke?” Jelas saja kubalas “PASTI!!!”.                              Diriku serasa melayang bebas ke udara. Lalu kutemui bidadari di sana. Aku berdansa dengannya dengan disaksikan oleh keluarga dan sobat-sobatku disana. Siapa lagi bidadarinya kalau bukan Pelangi? Kita jadi sering banget jalan berdua. Dan sering juga melihat pelangi bersama-sama.                              Setelah gossip jadiannya aku sama Pelangi tersebar, Rico and friends mendatangi aku. Aduh, dia pasti bakal ngelabrak aku habis – habisan nih. Aku bergegas pergi dari dudukku. Tapi anak buah Rico menarik tas hitamku. Aku jatuh ke lantai dan merasa ketakutan sekali. Apalagi Dido dan Rahman yang bergabung di genk itu adalah juara boxing antar kampus. Keringat dingin bercucur dari dahiku hingga ujung dagu. Perlahan – lahan Rico menjulurkan tangannya. Aku memejamkan mata dengan kuat dan berusaha melindungi kepalaku dengan lenganku. Tapi apa? “ Slamet ya. Ternyata lo yang ngedapetin Pelangi duluan” Itu yang Rico ucapakan. Hah? Bener? Waw. Aku ga nyangka banget ada orang yang baik sampe kaya gitu. Makin seneng deh.                               Besoknya, aku berangkat ke kampus kaya biasa. Naik sepeda motor sama boncengin Pelangi. Pelangi juga memberiku gantungan kunci benang berwarna – warni mulai dari merah dan berurut sampai ungu. Ditengahnya terdapat plastik bertuliskan ‘Rainbow’ dan sekarang kugunakan untuk menghias kunci sepeda motorku.                               Pulangnya aku dikabarkan dengan kabar yang sangat tidak menggembirakanku. Ayahku masuk rumah sakit! Mengapa? Aku juga ga  tau. Intinya, mama meneleponku dan memberitahu kalau ayah masuk rumah sakit. Segera kulajukan dengan cepat Sportbikes menuju rumah sakit.                               Aku melihat mama, Tami dan Hugo terduduk lemas di ruang tunggu. Aku segera menghampiri mama. “ Mama! Gimana ayah?!” bermuka pucat mama menjawab, “Ayahmu kumat lagi To. Padahal sudah lama penyakit ayah tidak muncul.”                                Aku terduduk lesu ke kursi di sebelah adikku Tami. Tami memandangi wajahku dengan raut wajahnya yang pucat dan berusaha menahan tangis. Aku mempersilahkan untuk meletakkan kepalanya di dadaku. Kupeluk erat badan mungilnya. Dengan isak tangis keluargaku benar -  benar dipenuhi haru hari ini,                               Otakku berjalan lambat ke belakang dan membiarkan kotak di pojok otakku memutar kembali memori kita sekeluarga. Aku teringat beberapa minggu lalu saat ayah baru pulang dari Amerika. Keluargaku benar – benar senang dan bahagia. Hingga kutemui Pelangi dan kutembak dia. Saat ayah memberikan oleh – olehnya pada kami. Dan saat Hugo menggangguku ketika bertelepon dengan Pelangi. Oh betapa berbeda sekali dengan hari ini.                                “Tito!!” panggil mama dan menyadarkan lamunanku akan memori beberapa minggu lalu. Mama memberi kertas berisi biaya yang harus dibayar untuk perawatan ayah. “ Segini banyak, Ma?” aku bertanya heran pada mama. Mama menganggukkan kepalanya pertanda kata – kata “ IYA”                            Gimana cara mendapatkan uang sebanyak ini? Aduh… Pikiranku lebih kacau dan makin stress ketika Pelangi berkata ia akan pergi ke Australia. Ya ampun! Apa ada lagi cobaan yang akan menerkamku setelah ini? Ah! Terpaksa aku harus merelakan kepergian Pelangi ke Australia. Tapi kali ini lebih haru lagi yang kurasakan. Hatiku seakan dicabik – cabik. Aku berharap Pelangi bisa mengingatku di sana. Kuharap Pelangi juga akan menepati dan tidak mengingkari belasan janjinya padaku. Baiklah, aku masih punya gantungan kunci dari Pelangi. Aku harus memikirkan caraku mendapatkan uang untuk perawatan ayah. Tapi dimana?                                 Oh iya! Ada Paman Heru! Paman yang paling berjasa di dunia balapku. Aku pergi ke rumah Paman Heru saat itu juga. Aku lihat Paman Heru sedang bersantai di depan rumahnya sambil minum kopi. Aku menyapanya dan mulai berbincang beberapa lama.     “Kamu butuh uang berapa To?” Paman Heru bertanya sambil bersiap mengambil dompet kulit dari saku celananya. “Segini Paman” aku memberikan kertas yang diberikan mama saat di rumah sakit. “ Wah. Banyak nih To. Oke paman mau kasih. Tapi Cuma bisa seperempatnya aja. Sisanya cari sendiri oke?” sahut paman. “Oke deh paman.” Balasku sedikit kecewa. Paman Heru mengeluarkan hampir seluruh isi dompetnya. Ku raih uang itu. Aku mengucapkan terimakasih.                                 “ Ehm, paman. Cari sisanya dimana yah? Maaf ya paman kalo ngrepotin..” “ Aduh dimana ya? Paman Heru udah jarang banget ketemu event – event balap.” Jawab Paman Heru. “ Bener nih Paman? Ngga ada sama sekali?”  tanyaku sekali lagi untuk meyakinkan. “ Ada sih satu. Paman kemarin ketemu satu event. Hadiahnya lumayan gede juga” jawab paman sekali lagi. “Ya udah aku ikut.” Jawabku tanpa pikir panjang. “Tapi yang ngadain Komunitas Bali.” Ujar Paman. “Hah? Bali? Balap Liar paman?” tanyaku dengan  heran. “Iya. Kamu tau kan konsekuensinya?” “Emmmm, oke deh gapapa. Pokoknya ayah sembuh.”                              Setelah kubicarakan hal ini dengan mama, Tami dan Hugo, tak ada yang menyetujui kesepakatanku kecuali Hugo. Hanya dia yang menyemangatiku saat itu. “ Udah To. Kalo ada barang yang bisa dijual, biar mama jual daripada kamu ikut balapan kaya gitu.” Mama melarangku. “ Iya kak. Biar nanti Tami jual gorengan atau apa gitu buat bayar biayanya ayah. Daripada kakak nanti kenapa – napa.” Tami yang masih di bangku SD itu juga berusaha melarang. Tapi keputusanku udah bulat. Aku akan tetap mengikuti balap ini.                             Hari yang kutunggu akhirnya tiba. Sudah siap aku di atas motor balapku ini. Tak lupa ada gantungan kunci dari Pelangi yang menemaniku. Para cewek – cewek di depanku menarik bendera hitam putih di tangan mereka. Segera melaju kami semua. Urutan pertama ada rivalku si Joe. Tapi aku berusaha menyalipnya. Beberapa lap sudah kulewati. Tinggal satu lap lagi. Aku masih di urutan dua. Joe mengencangkan lagi gasnya. Aku juga tak mau kalah. Aku tancap gasku. Kini jarakku dengan Joe hanya beberapa cm! Kutancap lagi gasku! Garis finish sudah ada di depanku. Mataku mulai jeli memainkan trik. Kutancap gas hingga aku berada di depan Joe. Kuhalangi laju motor Joe dengan zig zag. Tinggal sedikit lagi.. Ya, ya, ya.. YESSS!!! Aku berhasil mencapai urutan pertama di garis finish.     Paman Heru berteriak menyemangatiku dari jauh. Para penonton menyoraki dan memberi tepuk tangan untukku. Sangat haru sekali. Sangat memuaskan. Tapi, polisi! Polisi! Polisi! Penonton berlarian kesana kemari. Para pembalap lain melaju kencang tak berarah. Paman Heru berteriak padaku “Tito!!!! Ayo pergi!!!! Paman ga mau kamu ditangkap polisi!!!” “Lhoh kenapa paman???!!!!! Aku kan belum dapat hadiahnya!!!!” teriakku membalas paman Heru. “Tito ini Balap Liar!!!!! Kamu lupa ya????!!!!!!”                                 Jregg. Oh iya!! Aku baru teringat. Kutancap gasku. Aku melaju tanpa arah. Tak kusangka segerombolan cewek centil berlari dengan histeris di depanku. Aku rem motorku dengan sangat mendadak dan dengan kecepatan yang melebihi normalnya. Keseimbanganku goyah. Aku terjatuh dari motorku!                                 Kaki kiriku tertindih body motorku. Sebelum kubebaskan kaki kiriku, kuraih dulu gantungan kunci dari Pelangi. Sedikit lagi…, yah! Aku berhasil membebaskan kakiku! Gantungan kunci dari Pelangi juga sudah kukantongi.                                   Belum aku berdiri dari jatuhku, seorang pembalap dengan motor besarnya segera melindas kedua kakiku dengan kecepatan tinggi. Sakit sekali! Aku mengerang kesakitan. Benar – benar sakit. Lebih sakit daripada hatiku yang tercabik saat Pelangi pergi. Paman Heru datang menghampiriku. Belum sempat aku mendengar Paman Heru berbicara, pandangankupun gelap. Apa ini? Aku sudah mati? Oh aku sudah mati ya. Ternyata  aku sudah mati.                                  Perlahan – lahan aku membuka mataku. Rasanya sudah lama sekali aku tidur. Tapi ada mama di depanku. Tami dan Hugo juga ada. Baunya sama persis ketika aku melihat ayah yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Oh? Aku sedang ada di rumah sakit?                              Aku bangun dari tidurku. Kulihat anggota badanku. Ada yang hilang!! Kakiku!! Mana?? Dimana kedua kakiku? Tertanya peristiwa itu membuat aku kehilangan kedua kakiku. Harusnya aku menuruti nasehat mama dan Tami. Pasti tidak akan seperti ini jadinya. Ah! Tapi nasi telah menjadi bubur. Apa daya??                            “Kak, waktu kakak koma, kak Pelangi dating kesini lho.” Kata Tami saat aku berbaring di ranjang tidur. “ Oh ya? Terus terus? Kak Pelangi bilang apa aja?” tanyaku penasaran dan langsung bangkit dari tidurku. “Enggak bilang apa – apa. Cuma kesini pegang tangan kak Tito terus pulang.” Jelas Tami. “Cuma gitu? Dia ga nitip apa – apa?” aku heran. “ Emm, enggak kok.” Jawab Tami ragu. “oh. Ya udah deh”.                            Siang itu hujan turun. Aku sangat ingat pada Pelangi. Soalnya dia pernah buat janji tiap ada hujan turun dia akan balik buat liat pelangi sama – sama. Dengan bantuan dorongan Hugo, aku menelusuri lorong rumah sakit hingga ke lobby dengan kursi roda. Kutunggu terus hingga Hugo tertidur di atas sofa. Tapi hingga larut ia tak juga datang.                             Namun aku sangat menyesal menunggunya sejak aku melihat surat yang terletak di atas meja. Andai saja waktu Tami bercerita padaku, aku tau kalau di tangannya ada surat dari Pelangi. Surat itu berisi :  “Buat Tito sahabat gue sekaligus pacar gue yang paling  gue sayang. To, gue minta maaf. Gue ga bisa balik lagi buat liat pelangi sama – sama lagi kaya dulu. Soalnya di sini gue udah ketemu ama cowok yang gue pikir bisa dampingin hidup gue. Tolong titip gantungan kuncinya ya. Rawat yang baik oke?”       Itupun belum semua. Yang paling membuat aku menyesal menunggunya semalaman adalah kalimat terakhir dari suratnya. Yaitu: “Gue ga bisa hidup sama orang cacat kaya lo”                            Kini kusadari, pelangi hanya terbentuk dari pembiasan yang tidak nyata. Namun bisa membuat satu cahaya putih menjadi bermacam – macam warna. Tetapi pelangi hanya sementara dan bila tak ada air dan cahaya pelangi hanya akan mengingkari janjinya untuk menyinari dunia.      Sama seperti si Pelangi. Pelangi memiliki ciri – ciri yang kuimpikan namun tidak nyata di hatinya. Ia bisa membuat hidupku berwarna dan ceria. Tapi hiburan itu hanya sementara untukku dan bila tidak ada diriku yang utuh seperti dulu, ia mengingkari janjinya dan berpaling.