Selasa, 30 November 2010

selembar daun waru

selembar daun waru,
apalah artinya ?
manik embun dan,
titik debu tak juga membuatnya beda
tetap akan tersurat sama, terbaca sama
gurat daun tak tersirat, jelas
tiuplah, selayak angin membelai helai
terkuak gurat-gurat
seperti lembaran kitab yang tak bersekat
hembuslah, selayak angin mengayun
dia akan menari mengikut takdir
mengarung waktu, kemudian
menjadi coklat dan kering,
apalah artinya ?
daun waru kering terserak,
di tanah coklat
dia telah mati, dilupakan

Mata,air mata

mentari pucat
mata berlinang
ada jerit
liris
miris
berkubang darah
berkubang air mata
berkubang doa
berkubang duka
berkubang prahara
air mata siapa ?
tangis siapa ?
ratap siapa ?
anak manusia
rembulan pasi
asap meninggi
merah jingga api
merona langit
tertadah tangan
tak terhingga
terbentang muka
mata tak berkata
pias, pias, pias
wajah tak berdarah
wajah kosong
tercetak pasrah
dan geram
tak berdaya

tetes air

tetes hujan
malam hari
serasa mematah hati
ingatkan pada
lagu bintang
yang terdiam
tetes air
bukan hanya di mata
menetes juga
di palung hati
teringat lakon
manusia di dunia
banyak, hanya laksana bedak
tak meresap di raga
lupa jiwa, lupa rasa
tetes air di jagad
menabuh tanah, menabuh hati
seperti suara lonceng bidadari.
semoga itu pertanda,
waktunya manusia untuk meraih matahari

tetes banyu

tetesing udan
ing wayah ratri
rinasa amedhyat ati
ngelingake marang
tembang lintang
kang sirep
tetesing banyu
ora mung ning netra
uga tumetes
ning telenging ati
yen kelingan laku
jalma ing donya
akeh lakon mung kaya boreh
tan rumasuk ing raga
lali jiwa, lali rasa
tetesing banyu ing jagad
nabuh lemah, nabuh manah
kaya suara genthaning amaranggana.
muga kuwi pratanda,
wayahe jalma nggegayuh bagaskara

Di balik mendung

bias asap menghilang di cakrawala
lalu tetes air yang horizontal
jatuh, mengalir mencumbu tanah
mencipta rima di bebatuan,berirama
menambah lamunan ke puncak ekstasi
menerawang berandai-andai
di balik mendung, ada mata dewa
menantang, mengajak bersitatap
dan tak cuma memandang beku
malah membuatku semakin membatu !
lalu mulailah
kususun serpihan gambar, sepotong sepotong
kulukiskan warna-warna, segaris segaris
menyesap rasa angin, mencari setitik manis
kurasakan, hempasan badai
ataukah semilir sepoi ?

kasih....

kasih,
andai derai airmataku tampak
jangan kau hiraukan
itu hanyalah debu yang singgah di mataku
bila tampak sedu sedan olehmu
jangan kau hiraukan
karena itu mungkin sesak nafas oleh batukku
bila langkahku gontai
jangan kau bantu
aku hanya perlu bersandar sejenak menghilang lelah
bila wajahku kuyu
jangan kau hibur
aku hanya perlu tidur, mengenyahkan kantukku
aku tak ingin kau bersedih
itu biarlah untukku
biarkan senyummu mengembang
biar dunia tahu
:tak ada apa-apa !

mungkin aku melepasmu

kubiarkan rindu ini mengikis
berbilang waktu telah berlalu
membiarkan rasa itu terjebak
menyiksa, di balik terali hati
menikmati rindu,
seperti merasakan kabut pagi
menyentuh, namun tak tersentuh
apakah aku harus melepasmu ?
hingga hanya akan hadir
dalam bingkai mimpi
tanpa bisa kumiliki
apakah aku harus melupakanmu ?
seperti sekedar sekelebat bayangan
yang bahkan tak berarti
walau untuk setitik memori
menikmati rindu,
seperti menikmati terbenamnya mentari
indah, sesaat, kemudian sepi
mungkin, aku harus melepasmu